Kamis, November 27, 2008

APAKAH MANAJEMEN MERUPAKAN ILMU ATAU SENI ?

Pertanyaan ini sering terlontar. Sebetulnya, manajemen seperti halnya semua seni lainnya (misalnya kedokteran, komposisi musik, rekayasa, sepak bola, atau akuntansi) menggunakan dasar-dasar pengetahuan yang terorganisasi yaitu ilmu dan menerapkannya dengan mempertimbangkan realitas yang ada untuk mencapai hasil praktis yang diinginkan.

Dengan demikian, praktek harus merancang suatu cara pemecahan yang ampuh, yaitu mencapai hasil yang diinginkan. Jadi, seni adalah "kecakapan" (know-how) untuk mencapai suatu hasil konkret yang diinginkan. Mereka yang melakukan diagnosa "menurut buku." atau mendisain sesuatu semata-mata menurut formula, atau mencoba melakukan manajemen dengan menghafal prinsip-prinsip, sudah bisa dipastikan akan melupakan kenyataan-kenyataan praktis.
Dengan pengecualian yang mungkin ada mengenai perumusan ilmu itu sendiri, seni adalah usaha manusiawi yang paling kreatif. Apabila pentingnya kerjasama kelompok yang efektif dan efisien dalam setiap masyarakat sudah dipahami, maka tidaklah sukar untuk mengatakan bahwa mana­jemen merupakan seni yang paling penting dari semua seni.

Seni yang paling produktif selalu didasarkan pada pemahaman akan ilmu yang mendasarinya. Jadi ilmu dan seni bukannya saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Semakin berkembang ilmu seharusnya demi­kian juga halnya dengan seni, seperti telah terjadi dalam ilmu-ilmu fisika dan biologi.

Para dokter tanpa ilmu pengetahuan akan menjadi dokter gadungan atau dukun; dengan ilmu, mereka bisa menjadi ahli bedah yang baik. Para eksekutif yang mencoba melaksanakan manajemen tanpa teori, dan tanpa pengetahuan yang dibentuk oleh teori itu, harus mengandalkan nasib, naluri, atau apa yang telah mereka lakukan di masa lampau; dengan pengetahuan yang terorganisasi, mereka mempunyai peluang yang jauh lebih baik untuk menyusun suatu pemecahan yang baik dan dapat dilaksanakan terhadap suatu masalah manajemen.
Tetapi, hanya dengan pengeta­huan tentang prinsip atau teori saja tidak akan menjamin praktek yang berhasil, sebab orang harus tahu bagaimana memakainya. Karena tidak ada ilmu di mana segala-galanya telah diketahui dan semua hubungan telah dibuktikan, maka ilmu tidak dapat menjadi alat yang komprehensif bagi para seniman. Hal ini berlaku entah dalam mendiagnosis penyakit, merancang jembatan, atau mengelola sebuah perusahaan.
Salah satu kesalahan umum dalam memanfaatkan teori dan ilmu adalah melupakan pentingnya kompromi guna mencapai hasil total yang diinginkan.

Seorang perancang pesawat terbang harus mengkompromikan antara berat dan kekuatan di satu pihak, dan biaya di pihak lain. Para manajer mungkin menunjuk lebih dari satu atasan untuk seorang karyawan dengan demikian melanggar prinsip kesatuan komando kalau mereka merasa pasti bahwa hal itu akan menunjang peningkatan hasil total yang diinginkan. Tetapi dengan mengabaikan prinsip-prinsip dan elemen-elemen lain dalam ilmu, kita harus memperhitungkan biaya dan mempertimbangkan hasil totalnya. Kemampuan untuk membuat kompromi, dengan konsekuensi yang tidak diinginkan seminimal mungkin, adalah intisari dari seni manajemen.

Masalah lain seringkali timbul sebagai akibat dari usaha memperbaiki suatu situasi dengan menerapkan prinsip yang tidak dirancang untuk mengatasi situasi tersebut. Orang tidak akan menerapkan teori tekanan logam kepada suatu masalah di mana tekanan perekayasaan tidak penting, sedangkan biaya bahan baku mempunyai arti yang besar. Begitu pula, kita diharapkan tidak akan menerapkan prinsip manajemen kepada masalah diagnosis ke dokteran. Salah satu kesukaran yang dialami banyak sarjana dan praktisi manajemen adalah bahwa mereka mencoba memaksakan sebuah prinsip ke dalam suatu situasi yang tidak dirancang untuk dijelaskan dengan prinsip tersebut.

Kamis, November 06, 2008

BUKU GRATIS

Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Nasional sudah berupaya untuk menyediakan buku elektronik GRATIS. Hal ini perlu ditindaklanjuti oleh berbagai dinas terkait yang ada di daerah.

Setiap tahun ajaran baru, biasanya setiap oran tua murid selalu dibebani berbagai biaya anak sekolah termasuk dalam hal biaya buku, memang pemerintah telah mencanangkan Sekolah Gratis, namun lagi-lagi di tataran operasional teknis tetap aja masih ada berbagai pembiayaan.

Khusus tetang buku gratis, sesungguhnya orang tua murid dapat men-download di situs Dinas Pendidikan Nasional, klik saja disini http://bse.depdiknas.go.id/

Dalam kaitan teknis memang sulit untuk masyarakat di daerah, tetapi dapat disiasati dengan cara :
1. Komite Sekolah bersama-sama dengan kepala sekolah mencari sponsor untuk mencetak buku-buku yang telah di download.
2. Komite sekolah bersama-sama pihak sekolah dan orang tua dapat membantu keringanan biaya dengan cara mencari sponsor tadi.

Sponsor yang dimaksud adalah bisa perusaaan, pengusaha atau orang-orang dermawan.

Selanjutnya kepada Bapak dan Ibu Guru terkadang ada oknum guru terkesan memaksakan kepada anak untuk beli buku, lagi-lagi orang tuanya tidak mampu sehingga membebani.

Memang harus diakui bahwa buku adalah media untuk orang menjadi cerdas. Maka dengan tulisan ini saya ingin mengajak semua : Orang tua, sekolah, komite sekolah untuk bersama-sama mencarikan solusi dalam mencetak buku-buku pelajaran untuk ANAK-ANAK KITA SEMUA.

Ok. kita buat masternya dari Dinas Pendidikan Nasional, namun untuk penggandaanya kita tanggung bersama-sama, dan yang kurang mampu kita bantu, dan oknum guru pun menhan diri untuk tidak mengambil buku dari percetakan lain dengan alasan "BISNIS KECIL-KECILAN"

Sesama Saudara Harus akuuur .... serasi kan

Wisata Pendidikan

Wisata Pendidikan
Inda Kirana Protokol Democrazy Menerima Cendramta Dari FE UNSIKA